Selamat dari Tsunami. Bagaimana Bisa?
Bukan sebuah dongeng untuk mengakui bahwa ada orang yang berhasil selamat dari tsunami, apalagi dengan jarak hanya 500 meter dari garis pantai. Karena takdir (tentu saja), yang didukung dengan ikhtiar yang maksimal dari pelaku, sampai akhirnya selamat dari tsunami. Sudah pasti bukan dengan cara yang tiba-tiba, melainkan dengan persiapan yang cukup. Siapa pula yang terlintas di pikirannya untuk rutin latihan menyelamatkan diri dari tsunami? Nyatanya, ada. Ada yang terpikir untuk belajar dan melakukan latihan itu.
Sebelum menebak siapa orangnya, mari kita samakan persepsi tentang tsunami. Menurut PVMBG (Pusat Vulkanologi, Mitigasi Bencana Geologi), tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar laut. Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Bila dengan kedalaman 7000 meter, kecepatannya bisa mencapai 942.9 km/jam. Kecepatan ini hampir sama dengan kecepatan pesawat jet.
Di laut, gelombang tsunami akan memiliki kecepatan yang besar dengan tinggi gelombang yang rendah, sedangkan pada saat mencapai laut dangkal, teluk atau muara sungai, kecepatan gelombang tsunami menurun, namun ketinggian gelombang meningkat dan bersifat merusak.
Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang Tsu artinya pelabuhan dan Nami yang artinya gelombang laut. Kata tsunami ini bermula dari gelombang laut yang menghantam pelabuhan. Istilah tsunami diadopsi dari Jepang, maka teladan selamat dari tsunami juga datang dari Jepang.
Gempabumi, Tsunami, dan Radiasi Nuklir
11 maret 2011, gempabumi dengan magnitude 9,1 terjadi di Jepang dan memicu gelombang tsunami. Gempa ini memicu hancurnya pembangit nuklir di PLTN Fukushima Daiichi. Gelombang pertama tsunami berhasil dihalau oleh tembok penghalang. Beberapa menit kemudian, gelombang kedua datang dengan tinggi lebih dari 14 meter, menembus tembok. Reaktor nuklir yang beroperasi di PLTN tersebut ditutup, namun daya cadangan dan sistem pendinginnya gagal. Reaktor 1 meledak pada 12 maret 2011, disusul dengan ledakan reaktor 3 pada 14 Maret 2011 (dilansir dari Kompas.com).
Bila pembaca mencari sendiri informasi mengenai gempabumi yang terjadi di Prefektur Fukushima 2011 ini, akan muncul beragam dokumentasi saat kejadian bencana. Hancur, rusak berantakan, bangunan runtuh, rumah yang hancur, mobil yang tertimpa reruntuhan, dan gambar lainnya yang serupa. Pada saat itu, Bank Dunia memperkirakaan kerugian yang ditimbulkan akibat bencana ini mencapai Rp. 2.068 triliun.
Siapa yang Selamat?
Adalah sebuah sekolah yang mengimplementasikan edukasi mitigasi bencana yang telah dilatih berulang-ulang setiap tahunnya. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan The Miracle of Kamaishi. Saat bencana terjadi, SD Unosumai dan SMP Kamaishi, Prefektur Iwati berhasil melakukan evakuasi dan selamat dari bencana tsunami. Secara geografis, sekolah tersebut terletak 500 meter dari garis pantai, yang juga merupakan titik rawan bencana. Kisah ini penulis dapatkan dari artikel yang berjudul “Penanaman Edukasi Mitigasi Bencana pada Masyarakat Jepang”, ditulis oleh Arsi Widiandari, seorang dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Universitas Diponegoro.
Dilanjutkan dalam tulisan tersebut, keberhasilan SMP Kamaishi dalam mengevakuasi diri menunjukkan bahwa mereka telah menerapkan edukasi dan pelatihan bencana. Tujuannya adalah (1) bertanggung jawab untuk melindungi diri sendiri; (2) dari seseorang yang diselamatkan menjadi penyelamat; dan (3) mewariskan budaya ketahanan bencana.
Kedua sekolah ini mengimplementasikan pendidikan kebencanaan secara bersamaan, karena letak sekolah yang bersebelahan. Pembelajaran ini juga melibatkan masyarakat sekitar. Pada saat terjadinya gempa, seluruh siswa dari SMP Kamaishi mengikuti persis tahap-tahap dan sikap yang telah dilatih berulang-ulang pada saat pelatihan mitigasi bencana. Selain mengevakuasi diri mereka sendiri, siswa SMP Kamaishi juga sekaligus berperan sebagai evakuator untuk siswi di SD Unosumai dan berhasil mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Apakah Indonesia Bisa?
Tentu saja. Jangan pesimis dulu. Meskipun belum masuk dalam prioritas program pembangunan nasional maupun daerah, kita harus bergerak atas nama egoisme: selamatkan diri sendiri dari bencana. Mulailah mencari literatur atau dokumentasi materi terkait evakuasi mandiri terutama saat terjadi bencana. Bencana itu bermacam-macam. Silakan baca UU No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.
Oh, kita punya undang-undangnya ya? Iya. Siapa tau ada yang belum mengetahuinya. Selain undang-undang, sebetulnya Indonesia juga telah merilis Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud) Nomor 33 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana atau disingkat SPAB.
Mari kita bedah isi beberapa hal yang tercantum pada Permendikbud tersebut. Dalam pasal 2 poin (e), penyelenggaraan program SPAB bertujuan untuk memberikan perlindungan dan keselamatan kepada peserta didik, pendidik, dan tenaga pendidikan dari dampak bencana di satuan pendidikan. Dilanjutkan pada pasal 4 mengenai ruang lingkup penyelenggaraan SPAB meliputi penyelenggaraan Program SPAB pada saat Prabencana; penyelenggaraan layanan pendidikan dalam situasi darurat bencana; dan pemulihan layanan pendidikan pascabencana.
Dilanjutkan pada pasal 5 poin (h), pada saat prabencana Kementrian bertanggung jawab untuk mengintegrasikan materi terkait dengan pencegahan dan penanggulangan dampak bencana di satuan pendidikan ke dalam kurikulum nasional; dan poin (i) menyediakan bahan dan informasi tentang pengurangan risiko bencana.
Apakah berarti tandanya guru juga harus ahli di bidang bencana? Tenang, setiap manusia memiliki peran, kapasitas, dan kemampuannya masing-masing. Sektor pendidikan bisa melakukan kolaborasi dengan sektor penanggulangan bencana untuk melaksanakan melatih peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan secara berulang-ulang. Bukan hanya sekedar momentum karena free-class atau hiburan belaka. Bagaimana caranya? Masukan dalam kurikulum rencana belajar kemudian dijadikan sebagai agenda rutin per semester atau tahunan.
Sebagai bagian dari unsur pemerintahan di Indonesia, khususnya di pemerintah daerah Kota Cirebon, BPBD Kota Cirebon telah melakukan inisiasi SPAB ke beberapa sekolah. Tantangannya adalah bagaimana sekolah berkenan untuk berkomitmen dan istiqamah dalam melanjutkan kampanye budaya sadar bencana setelah pelatihan berlangsung. Jangan sampai, pelatihan bencana hanya sebuah sarana refreshing murid dan guru karena tidak belajar di kelas. Harapannya, belajar tentang bencana bisa sama seriusnya dengan belajar matematika untuk persiapan ujian. Karena, bencana juga merupakan ujian kan?
Satu hal lagi, dalam pasal 6 poin (g) tercantum bahwa pada saat prabencana, Pemerintah Daerah bertanggung jawab untuk melakukan penguatan dan perbaikan sarana prasarana satuan pendidikan agar dapat memenuhi standar bangunan aman bencana. Pembangunan tidak hanya berdasarkan insting untuk mempercantik sekolah agar sedap dipandang, tetapi harus memperhatikan dari segi keamanan. Jangan sampai pintu kelas macet atau susah dibuka, apa jadinya bila gempa terjadi dan siswa-siswi terjebak di dalam kelas karena tidak bisa keluar menyelamatkan diri? Apa jadinya bila ruang guru terlalu padat dengan meja-meja yang tertata sembarang sehingga mengurangi aksesibilitas untuk lari secepat mungkin saat gempa datang? Apa jadinya bila anak tangga di sekolah tidak dibuat dengan ergonomis dan menyulitkan warga sekolah untuk menyelamatkan diri dari lantai 2?
The Miracle of Cirebon
Semoga apa yang dilakukan murid-murid di SD Unosumai dan SMP Kamaishi bisa memberikan inspirasi bagi kita semua. Istilah The Miracle of Kamaishi mungkin bisa diganti dengan The Miracle of Cirebon karena nanti semua orang mampu melakukan evakuasi mandiri dan sekaligus menjadi evakuator bagi orang-orang di sekitarnya. Tak perlu menunggu gempa dan tsunami dulu kan?
Oleh: Norma AG, Analis Mitigasi Bencana pada BPBD Kota Cirebon
Tulisan tersebut telah diterbitkan pada harian Radar Cirebon tanggal 3 Maret 2023.