Artikel

Subscriber Banjir

13 Januari 2026
BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH
247
Bagikan ke
Subscriber Banjir

“Halo guys! Welcome back to my youtube channel. Jangan lupa like, comment, dan subscribe ya!”. Merupakan kalimat pembuka yang lazim diucapkan oleh para pembuat video yang diunggah melalui kanal Youtube. Kalimat ini berupa sambutan kepada para penonton, dilanjutkan dengan ajakan untuk menyukai, memberi komentar, dan berlangganan di channel tersebut. Tujuannya, agar setiap video yang diunggah langsung muncul pada laman beranda para pengguna Youtube.

Ragam video yang tampak pada beranda ini tentu berbeda antar satu pengguna akun. Bagi yang tertarik dengan memasak, maka akan muncul rekomendasi tips-tips memasak dengan menu masakan yang variatif. Bagi yang tertarik dengan sajian youtube podcast akan muncul rekomendasi berbagai channel  dengan pembahasan yang variatif dari sang pembuat video, tergantung siapa yang menjadi narasumber dan yang mewawancarai. Atau ada juga youtuber yang melakukan monolog untuk menyampaikan ceritanya.

ALGORITMA

Suka tidak suka, semakin banyak kita mencari suatu topik, maka akan semakin banyak pula rekomendasi yang muncul. Mulanya hanya mencari cara mudah memasak rendang, akhirnya muncul tips membuat kue ulang tahun karena algoritma yang seirama. Mulanya terpaku dengan satu story-teller, akhirnya muncul story-teller yang lain yang mungkin membawakan topik yang sama.

Bila mulai terasa jenuh dengan rekomendasi yang disuguhkan oleh Youtube, maka pengguna bisa mengganti rekomendasi-rekomendasi yang ada dengan daftar rekomendasi yang baru. Caranya adalah melakukan pencarian dengan kata kunci yang berbeda, sehingga hasil yang muncul juga berubah. Secara berangsur, rekomendasi video akan berganti.

Alogritma ini membaca pola perilaku manusia ketika menggunakan Youtube. Algoritma satu pengguna dengan yang lain tentu berbeda. Pola algoritma yang sama antar pengguna, akan menghasilkan rekomendasi yang sama karena riwayat pencariannya juga sama.

ALGORITMA PERILAKU MANUSIA

Algoritma hanya alat bantu yang merekat pada teknologi yang kita gunakan saat ini, untuk membaca referensi dan aktivitas manusia di internet. Pertanyaannya, apakah kita bisa menangkap algoritma perilaku kita sendiri? Mengenali dan menyadari setiap aktivitas yang kita lakukan sehari-hari, menyadari apa manfaatnya, menyadari dengan siapa kita berinteraksi, serta menyadari apabila ada algoritma yang salah, kemudian “riwayat perilaku” yang terekam dalam algoritma diperbaiki dengan perilaku yang baru dan lebih bermanfaat.

Bulan Februari 2023, algoritma Kota Cirebon banyak dipenuhi dengan guyuran hujan hampir setiap hari. Intensitasnya beragam, mulai dari ringan, sedang, hingga tinggi. Terkadang bonus angin kencang yang mengakibatkan pohon tumbang, rumah ambruk, serta fasilitas umum yang rusak diterpa angin. Hujan, yang semula membasahi tanaman yang berada di pekarangan rumah, membasahi ruang terbuka, kemudian berdampak banjir sampai menutup ruas jalan sehingga kendaraan kehilangan akses. Banjir pun surut, tapi jalanan kotor bekas sisa banjir yang menyisakan pasir-pasir berserakan. Ah, kacau sekali.

Manusia tidak suka banjir. Memangnya siapa yang suka? Hujan yang merupakan tanda rejeki, dipersepsikan sebagai petaka karena datangnya dirasa berlebihan sehingga air meluap tidak pada tempatnya.

Sebentar, apakah air yang salah? Apakah algoritma hujan berubah? Atau, terjadi perubahan algoritma pada perilaku kita sendiri?

Penulis beri beberapa pertanyaan: Siapa yang hari ini sudah membaca prakiraan cuaca di Kota Cirebon yang selalui diperbarui setiap harinya? Siapa yang sudah tahu bahwa puncak musim penghujan tahun ini tiba di bulan Maret? Siapa yang sudah tahu bahwa secara umum, curah hujan akan meningkat setiap tahunnya? Siapa yang selalu membawa payung dan jas hujan saat musim penghujan ini? Semoga jawabannya adalah “saya”, bukan gelengan kepala atau saling tunjuk tapi tidak ada yang mengaku.

SUBSCRIBER BANJIR

Mari kita sama-sama menelaah ke belakang, ke riwayat perilaku kita. Jangan-jangan, secara tidak sadar, kita sendiri yang mengundang banjir itu untuk datang. Dengan membiarkan saluran air tidak terawat, dengan menutup area resapan air, dengan sengaja membuang sampah ke saluran air, dengan membiarkan lahan kosong yang pohonnya telah ditebang tanpa melakukan penanaman kembali, dengan mempersempit aliran air, dengan menutup ruang untuk air yang membutuhkan tempat untuk mengalir secara optimal, dengan menutup akses air untuk menyerap ke tanah dengan beton yang sama sekali tidak bisa ditembus oleh tetesan air itu. Kita yang memperkenankan air itu ke tempat barunya: di ruas jalan dan menyelinap masuk ke rumah-rumah manusia.

Apabila riwayat perilaku ini tidak segera dihapus dan diganti dengan perilaku yang lain, maka tidak heran bila banjir akan terus menghampiri. Sadar atau tidak sadar, kita membiarkan diri sebagai pelanggan banjir setiap hujan datang.

Karena air itu turun dari langit ke bumi, mengalir dari tempat yang tinggi ke rendah. Air yang meluap ke jalan sebetulnya sedang mencari tempat yang lebih rendah yang bisa menerima dirinya, karena tempat yang sebelumnya sudah tidak sanggup lagi untuk menampung. Kasihan.

Mungkin bila air bisa berbicara, ia juga akan berontak dan mencari-cari dimana tempat ia bernaung setelah sampai ke bumi. Air sebagai sumber kehidupan, nyatanya tidak diberi ruang hidup oleh manusia yang bergantung padanya. Kehidupan justru jauh lebih “hidup” ketika banjir datang.

“Baiklah”, banjir berujar. Ia melihat ternyata banyak manusia yang mengundang air untuk meluap ke ruas jalan dan kawasan permukiman. Disambut gegap gempita, riuh yang berteriak “Banjir, banjir, banjir!”, ia anggap sebagai angin segar karena kehadirannya disambut. “Jangan lupa subscribe ya. See you on the next video!”.

Banjir is now processing the new content. Are you one of the subscriber?


--

Oleh: Norma AG, Analis Mitigasi Bencana pada BPBD Kota Cirebon

Tulisan tersebut telah diterbitkan pada harian Radar Cirebon tanggal 21 Februari 2023.


Bagikan ke