“Yang saya lihat, kita ini masih sering sibuk di tahap tanggap darurat, pas terjadi bencana. Padahal pada saat prabencana itu lebih penting.” “Saya” dalam kalimat di sini, adalah Pak Presiden RI, Joko Widodo. Beliau menyampaikan arahan ini ketika sambutan sekaligus membuka acara Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) 2023, di Jakarta International Expo pada tanggal 2-3 Maret 2023. Sila dapat dilihat melalui kanal youtube BNPB untuk melihat seluruh rangkaian kegiatan Rakornas PB 2023.
Pada tahun 2023, Rakornas PB mengambil tema Penguatan Resiliensi Berkelanjutan dalam Menghadapi Bencana. Untuk mewujudkan resiliensi ini diperlukan upaya untuk membangun kerangka sistem ketahanan bencana (disaster resilience) yang bersifat menyeluruh, yang didukung oleh kapasitas kelembagaan pemerintah, kemitraan lintas pemangku kepentingan, sistem data, ilmu, dan teknologi, skema pembiayaan yang beragam, peran serta masyarakat dan kearifan lokal, serta kolaborasi dengan komunitas global.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, S.Sos., M.M., menyampaikan laporan kegiatan dan memberikan arahan kepada para hadirin. Hal-hal yang disampaikan di antaranya: (1) Jumlah kejadian bencana pada tahun 2022 mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2021, namun dampak kerusakan rumah dan korban jiwa lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya; (2) Jenis bencana yang terjadi pada tahun 2022, didominasi dengan bencana hidrometeorologi basah sejumlah 3.257 kejadian atau 91,95%. Jenis bencana berikutnya adalah bencana hidrometeorologi kering dengan jumlah 256 kejadian atau 7,23%. Bencana yang paling sedikit adalah bencana geologi dan vulkanologi dengan 29 kejadian atau hanya 0,82%. Meskipun paling sedikit, tetapi bencana geologi dan vulkanologi ini menimbulkan kerusakan dan kerugian yang lebih tinggi dibandingkan jenis bencana lainnya; (3) Peran BNPB dalam penanganan penyakit mulut dan kuku (PMK) saat ini berfokus pada penuntasan 5.700 kasus aktif, dari total sebelumnya yang mencapai 619.000 kasus. Pada tahun 2023, upaya penanganan PMK akan dititikberatkan pada vaksinasi hewan ternak.
Kembali pada arahan yang disampaikan Pak Presiden bahwa langkah prabencana harus menjadi prioritas untuk meminimalisir jumlah korban dan kerugian. Langkah-langkah yang dapat dilakukan yakni: (1) Mengoptimalisasi sistem peringatan dini, baik itu yang sifatnya konvensional maupun yang modern yang telah menggunakan peralatan canggih. Sistem peringatan dini ini menjadi unsur yang penting karena dapat memberi waktu kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana untuk mempersiapkan diri dari bencana yang telah terdeteksi dalam sistem tersebut. Harapannya, upaya ini mampu menekan jumlah korban jiwa. (2) Melaksanakan edukasi dan sosialisasi mengenai bencana kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama kepada murid-murid di sekolah. Kegiatan ini harus menjadi prioritas karena memberikan informasi kepada masyarakat mengenai bencana adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas. (3) Mengevaluasi rencana tata ruang dan kualitas konstruksi bangunan. Pemerintah Daerah harus memperhatikan penataan ruang agar tidak memanfaatkan lahan yang merupakan area bencana sebagai lahan permukiman atau pembangunan. Karena bila bencana terjadi maka risiko, kerusakan, dan kerugian yang ditimbulkan cukup tinggi. Kualitas konstruksi bangunan juga perlu diperhatikan. Dirikanlah bangunan yang cukup kuat untuk meminimalisasi guncangan akibat gempabumi, maupun bencana lainnya.
Sungguh, Mitigasi Bencana Itu Tidak Menarik
Bagaimana tanggapannya, wahai para pembaca yang masih setia membaca hingga paragraf ini? Bosan ya, karena semuanya bersifat program dan rencana. Memang secara naluri, manusia itu lebih tertarik dengan aksi-aksi di lapangan yang nyata dan memacu adrenalin. Sungguh tulisan ini pun tidak menarik, karena hanya berisi kumpulan kata demi kata yang penulis rangkai, yang sebetulnya adalah bagian dari upaya mitigasi bencana itu sendiri.
Penulis beri kesempatan, silakan buka instagram BPBD Kota Cirebon dengan username @bpbdkotacirebon, apakah sudah difollow? Bila belum, maka pembaca telah melewatkan satu upaya mitigasi bencana. Ya, karena akun instagram yang berisi informasi bencana masih dianggap tidak penting dan tidak dibutuhkan. Apalagi jika kejadian bencana “hanya” seputar pohon tumbang dan rumah ambruk, tidak ada yang memberi atensi khusus.
Bila pembaca sedang membaca artikel ini sekaligus membuka instagram BPBD Kota Cirebon, maka pembaca dapat melihat pada foto yang berjudul “Meningkatkan Kesiapsiagaan Karyawan MD7 Untuk Hotel Aman Bencana” ketika artikel ini ditulis, jumlah likersnya sebanyak 43 pengguna. Bila ada waktu yang luang, maka pembaca bisa mencari foto dengan judul “Apa itu Skala MMI Pada Gempa Bumi” yang diunggah pada 25 Februari 2023. Berapa likersnya? Hanya 22.
Tetapi, bila pembaca kembali meluangkan waktu untuk mencari foto dengan judul “Diguyur Hujan Selama 3 Jam, Sejumlah Titik di Kota Cirebon Mengalami Banjir” pada 21 Desember 2022, foto tersebut mendapatkan jumlah likers sebanyak 139 pengguna. Yang ditampilkan dalam foto tersebut adalah dua orang petugas BPBD mengenakan jas hujan oranye dengan tulisan BPBD di punggungnya, sedang berjalan menyusuri banjir yang ketinggian hampir setara dengan dada orang dewasa.
Pergerakan-pergerakan yang sifatnya preventif tidak mendapatkan perhatian sebagaimana atensi yang tercurah pada saat fase tanggap darurat. Mungkin manusia melihat itu adalah hal momen yang langka, yang hanya terjadi sesekali, dan dramatis. Sementara pemberian penyuluhan dianggap buang-buang waktu karena yang disampaikan adalah teori. Pun ketika diberi praktik, biasanya diiringi sedikit senda gurau karena gerakan melindungi kepala saat gempabumi dan bersembunyi di bawah meja adalah aktivitas yang ‘unik’. Mungkin itu hasil dari pemikiran skeptis penulis saja. Mari berprasangka baik, barangkali bagi penerima penyuluhan hal tersebut adalah hal baru dan sangat menarik, dapat meningkatkan mood sehingga mereka senang.
Mengapa Mitigasi Bencana Itu Tidak Menarik?
Apakah karena upaya penyebaran informasi ini kurang kreatif? Oh sebentar. Penulis yakin para pembaca mempunyai smartphone dengan aplikasi youtube di dalamnya. Penulis beri pertanyaan, apakah pernah mencari konten yang dibuat oleh BNPB Indonesia yang dikemas dengan nuansa kekinian, berupa youtube podcast dan video animasi? Belum ya? Infografis bencana dengan gaya kekinian pun sebetulnya dapat banyak diakses, jika memang mau mencari dan mau menerima informasi tersebut.
Apakah upaya penyebaran informasi bencana kurang massif? Sependek yang penulis tahu, bila ada peringatan dini dari BMKG, BPBD Kota Cirebon langsung meneruskan ke grup-grup whatsapp masyarakat Kota Cirebon terkait informasi tersebut. Rilis peringatan dini juga diupload melalui instagram story BPBD Kota Cirebon dan sering di unggah ulang oleh akun Pak Wali Kota Cirebon, Bu Wakil Wali Kota Cirebon, dan juga Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon. Bila pembaca tidak tahu, mungkin karena akun instagram BPBD Kota Cirebon juga sepertinya belum masuk dalam daftar pengguna yang diikuti.
Maka, akan sulit sekali untuk merealisasikan amanat (3) yang disampaikan Pak Presiden dalam sambutan di Rakornas PB 2023 lalu yakni untuk memperhatikan rencana tata kota dan kualitas konstruksi bangunan. Penulis tidak mempunyai kapasitas untuk menjelaskan bagaimana tata kota kita tercinta juga kualitas konstruksi bangunannya. Yang jelas, semoga semua gedung-gedung yang berdiri, tetap kokoh atau setidaknya minim kerusakan bila gempabumi terjadi. Susah payah membangun gedung, jangan sampai langsung rata dengan tanah akibat getaran alamiah itu.
Kembali lagi ke kalimat awal pembuka artikel ini, bahwa praktisi bencana bahkan hanya dilihat sibuk oleh Bapak Presiden ketika bencana terjadi. Padahal, upaya preventif pun sudah kami upayakan. Silakan bisa ditanyakan ke BNPB, BPBD tingkat provinsi maupun daerah di kota/kabupaten lain, upaya pencegahan dan mitigasi apa yang sudah mereka lakukan. Banyak sekali. Tapi yang paling sulit ya di bagian pengendalian tata ruang dan konstruksi bangunan, karena ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan.
Amanat Wali Kota Cirebon
“Pokoknya sedia payung sebelum hujan lah. Kita harus melakukan upaya pencegahan. Melakukan upaya pencegahan itu memang mahal, tapi jauh lebih mahal kalau kita melakukan perbaikan setelah terjadi bencana.” Kalimat ini disampaikan oleh Drs. H. Nahsrudin Azis, SH., Wali Kota Cirebon, usai Rapat Paripurna DPRD Kota Cirebon (10/10/2022). Laksanakan?
Oleh: Norma AG, Analis Mitigasi Bencana pada BPBD Kota Cirebon
Tulisan tersebut telah diterbitkan pada harian Radar Cirebon tanggal 15 Maret 2023.